#ReviewSerial Mondai No Aru Restaurant

Processed with VSCOcam with c1 preset

Kalau semangat lagi drop, aku saranin deh untuk nonton serial “Mondai no aru restaurant”, women power banget!

Dorama yang satu ini makin cihui karena bertabur bintang (dan favorit saya pula), sebut saja Yoko Maki, Fumi Nikaido, Masahiro Higashide, Mitsuki Takahata dan banyak lagi.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Bussett..ni abis dipake buat apa ya?

Singkatnya, serial ini berkisah tentang seorang perempuan bernama Tanaka Tamako yang berinisiatif membuat sebuah restoran sebagai caranya ‘balas dendam’ atas perlakuan direktur tempatnya dulu kerja pada sahabatnya. Dan dimulailah misi Tamako dengan menggaet teman-temannya yang kebetulan saat itu jobless semua. Inipun ga berjalan mulus karena pada awalnya ga semua temannya setuju apalagi melihat kondisi cikal bakal restoran (yang dinamakan Bistro Fou) yang kotor dan di atap pula. Tapi, bukan Tamako kalau langsung nyerah.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Di episode-episode awal kita diperlihatkan ‘masalah’ dari tiap orang di Bistro Fou. Ada yang ditinggal pergi orangtuanya, ga diakui sebagai anak karena lebih suka cross-dress, diceraikan suaminya karena dianggap ga becus, atau bergulat karena merasa lulusan Todai itu cocoknya kerja di perusahaan TOP bukannya di restoran dan lain sebagainya. Belum habis masalah internal, muncul juga masalah-masalah lain dari luar yang sungguh menguras tenaga, pun air mata. Tapi di luar itu semua, kita bisa liat mental macam apa yang dimiliki Tamako dan ini—menurutku—ngasih energi positif bahkan buat yang menonton.

Pada akhirnya, tidak ada yang abadi. Tapi bukan berarti ga bisa dimulai kembali. That’s all. Masalah itu selalu ada, ‘ga akan pernah habis. Satu waktu bahkan muncul bareng-bareng seakan ga ngasih waktu time-out, tapi bukan berarti harus jatuh dan ga bangun lagi. Kalau bisa memulai, suatu waktu akan mengakhiri dan kalau bisa mengakhiri, suatu waktu bisa memulai.

Processed with VSCOcam with c1 preset

Revolusi Makan a la Hiromi Shinya

DSC_0094Minggu lalu—entah kenapa—aku beli buku berjudul “Revolusi Makan” yang ditulis oleh dr. Hiromi Shinya. Mungkin karena lagi selo, ‘ga tau mau ngapain, dan mulai kepikiran untuk memperbaiki gaya hidup. Gimana enggak, aku merasa bersalah nih tiap kali beli makan di luar karena secara sadar membiarkan msg dan minyak-minyak itu masuk ke tubuh. Padahal di samping itu, aku udah ngebebanin tubuhku dengan rutin minum kopi (instan) minimal 2x sehari. Parah ga tuh!

Karena diulas dengan menarik dan—semacam—menyimpan rahasia, aku ga sabar baca buku ini sampai tuntas.  Hiroma Shinya, pakar endoskopi asal Jepang, sudah malang melintang puluhan tahun berurusan sama orang-orang yang punya masalah dengan saluran percernaan.  Dan ia menemukan fakta yang unik, katanya usus orang yang suka makin daging atau fastfood pasti berwarna hitam (mungkin saking kotornya).  Ada lagi, menurut pengamatan endoskopi, makanan yang dicerna usus, sisanya bakal tertinggal di usus bagian kiri dan kanan bawah (usus besar). Nah menurutnya, inilah yang membuat orang jadi merasa ‘berat’ kalau semisal belum buang akhir besar.

Jika selama ini, buku-buku tentang pola makan menitikberatkan apa yang harus kita makan, Shinya lebih fokus lagi ke gimana caranya agar makanan yang kita makan bisa mudah dikeluarkan. Jadi, intinya bukan apa yang masuk, tapi gimana cara ngeluarin. Salah satunya—udah jelas—dengan makan makanan yang mudah dicerna. Yang banyak serat, yang organik, yah…sama seperti buku-buku lainnya.  Selain itu, dengan puasa pagi. Puasa di sinipun bukan berarti ga makan dan minum. Tapi, dari malam (menurutnya, makan paling akhir itu tidak lebih dari pkl. 09.00) hingga 15 jam kemudian, hanya konsumsi air putih saja dan—kalaupun lapar—makan buah-buah segar macam pisang, apel, kiwi, dan sebagainya. Ketiga, buang air besar tiap hari. Kalau bisa tiap pagi. Nah, ini nih yang kadang suka jadi masalah. Mungkin kita ngerasa baik-baik aja bab 2 hari sekali. Tapi, bener juga si, makan sehari 3x, saluran pencernaan butuh sekitar setengah hari untuk mencerna makanan. Ibaratnya kalau sisa makanan kemarin belum dikeluarin akhirnya jadi numpuk-numpuk dan inilah yang bikin jd ngerasa ‘berbeban berat’.

Yang namanya saluran pencernaan, emang rada ‘geli’ untuk dibahas karena berhubungan sama apa yang dimasukan dan dikeluarkan. Percayalah pasti penampakan endoskopi lebih ‘geli’ lagi ketimbang kita membayangkan.  Hmmmm….sampai sekarang belum nyoba sih. Tapi, kurasa puasa pagi dan sarapan buah, layak dicoba deh! Let’s see….

A Note to Myself

I want to live my life
To enjoy every bit of my breath
To see the world and how people live in it
I want to be wise, to be emotionally stable, to not be afraid of life or even death or people or things.
I want to be connected but not too attached. I don’t want to be care too much of what people think or say, but in the same time I listen.
I want to listen more, act more
…less  talk but speak louder!

Jogja-26 November 2015

Sedikit Catatan dari Jurnal Erwin Schmutz

Masyarakat Flores pasti sudah tidak asing dengan sosok yang satu ini. Erwin Schmutz, rohaniwan kebangsaan Jerman ini pernah bermukim di kedalaman pegunungan Mbeliling selama lebih dari 15 tahun (dari tahun 1968-1983). Yang menarik, Erwin Schmutz tidak hanya dikenal sebagai Pater, namun juga berperan besar menyingkap keanekaragaman hayati yang tersembunyi di kedalaman hutan-hutan hijau yang lebat dan jarang terjamah khususnya di Pegunungan Mbeliling dan kawasan Sano Nggoang. Naturalis ini banyak menemukan temuan baru diantaranya burung kehicap flores (Monarcha sacerdotum) dan penemuan kembali serindit flores.

Menemukan catatan perjalanan Erwin Schmutz ketika bermukim dan melakukan penelitian di kawasan Mbeliling dan Sano Nggoang, rasa-rasanya sangat sayang jika dibiarkan mengendap begitu saja. Banyak cerita yang menarik, apalagi terkait kepercayaan masyarakat setempat tentang makhluk-makhluk malam dari hutan. Meskipun, penduduk di kawasan tersebut sudah menganut agama Katolik dan Islam, tetapi masih ada juga yang mempercayai animisme.

Di masa lalu, penduduk setempat tidak boleh sembarangan menebang pohon di hutan. Mereka harus meminta izin pada pemiliknya yakni hantu yang di tempat ini dikenal sebagai poti. Merusak hutan artinya melukai buaya muara dan jika poti marah, penduduk sudah tau apa akibatnya.

Dalam catatan perjalanan Erwin Schmutz yang ada di buku “Searching for a Future” (ditulis oleh Colin Trainor, Widodo Prayitno, Dwi Lesmana, dan Anselmus Gatur), ada kisah–yang menurutku–sangat menarik. Jadi, ada kepercayaan masyarakat setempat tentang ular aneh yang hidup di malam hari. Begini ceritanya :

Jika bepergian di kegelapan bulan November, akan terdengar sayup-sayup suara ‘Ngogogogogo, ngogogogo….’ entah darimana asalnya. Masyarakat setempat menyebut “Kaka Nggokok/Manungge” alias si ular aneh. Mereka menggambarkannya sebagai sesuatu yang pendek, kerdil, tapi punya sayap dan jengger seperti ayam jantan. Makhluk itu dapat membuat suara seperti rusa. Tidak ada warga yang boleh mendekat, atau jika tidak akan mati, jadi ketika mendengar suara-suara itu warga lebih baik segera pergi.

Saat itu Erwin Schmutz berjalan di dalam hutan tepatnya di atas danau Sano Nggoang. Ia berjalan berdua bersama asistennya yang sangat pemberani, Natus Hana. Ketika berjalan, mereka mendengar suara ‘ckkk! ckkk!’ Apa itu? Penduduk setempat mengatakan itu siput tanah yang membanting pintu mereka. Hmm….apakah benar demikian? Tidak. Schmutz menemukan ternyata itu adalah seekor katak pohon berwarna hijau dan tidak berbahaya.

Malam semakin larut, mereka melanjutkan perjalanan ke dalam hutan. Saat itulah, mulai terdengar suara ‘Gogogogogogo! Gogogogogogo!’ Mereka mencoba menelusuri asal suara. Natus memandu melalui semak belukar dan anak sungai. Di sana terlihat jejeran pohon yang tampak seperti pulau. Schmutz meniru suara itu ‘Ngogogogogo….’ dan seketika terdengar sesuatu yang bergerak di antara dedaunan. Agresif.

Rasa takut mulai menghinggapi Natus karena ia tahu itu adalah ular aneh. Tapi Erwin tetap bersikeras mengamatinya. Cahaya senternya tidak mampu menangkap bayangan apapun. Schmutz kemudian menulis dalam jurnalnya “Bukan seekor burung. Sebangsa reptilia, mirip dengan tokek tetapi lebih bauh. Lengkingan agresif, lama kelamaan melemah seperti ‘Keh!Keh!Keh’ Ya seperti seekor tokek, tetapi buas dengan duri keras pada punggungnya, mungkin seperti jengger ayam jantan”

Di kemudian hari saat Erwin Schmutz masih tinggal di kawasan Mbeliling dan Sano Nggoang, akhirnya rasa penasarannya terbayar. Schmutz melihat sendiri makhluk yang dikenal masyarakat setempat sebagai ular aneh. Jeritan aneh ini ternyata berasal dari mulut seekor burung kecil. Jinak dan berbulu indah yaitu Tikusan ceruling (Rallina fasciata). Meskipun begitu, penduduk tetap tidak begitu percaya. Menurut mereka, burung itu mungkin hanya penjaganya alias Acu-Na.

Kalau dipikir-pikir, kepercayaan ini ada baiknya juga, warga jadi ga berani ngerusak hutan apalagi mengganggu binatang-binatang yang ada di dalamnya. Bagaimana mau mengganggu kalau untuk mendekatpun tidak berani. Ya kan? 🙂

Pengen tau lebih banyak soal kawasan Mbeliling dan danau Sano Nggoang? coba klik http://www.burung.org/index.php?option=com_content&view=article&id=93

Selera Musik!

Kalau dipikir-pikir, aku termasuk penikmat musik yang konservatif. Dari 3-4 tahun lalu, playlist ‘ga banyak berubah 😀
Aku ‘ga terlalu ngikutin perkembangan musik terkini–siapa artis yang lagi naik daun atau lagu yang sering diputer di TV/radio, atau paling suka dinyanyiin di karoke (halah!).
Dari sekian banyak koleksi lagu di kompi (yang kebanyakan rilis bukan taun ini *kan tadi  udah bilang), aku paling suka dengerin soundtrack film. Kalau nonton film, aku suka lebih fokus ke musiknya dan menurutku soundtrack itu ‘ga bisa sembarangan karena buat ngolaborasiinnya harus disesuain sama nafas plot filmnya. Kadang, momen-momen di film yang bikin soundtracknya jadi lebih mengena dan kebalikannya, tapi kebanyakan lagu juga bikin aku bernostalgia (halah) sama momen-momen personal yang masih membekas atau sekedar terbersit di ingatan.
Nah, ini beberapa OST film yang sering nongkrong di playlist kompi-ku dan tentu saja list ini sangat subjektif

OST Cinema Paradiso
Kalau kamu belum pernah nonton Malena atau Cinema Paradiso, coba deh nonton.. Aransemen Morricone emang bener-bener ‘soothes savage beast’. Sangat sentimentil dan penuh emosi. Berbeda sama beberapa musik orkestra  yang susah (susah diinget, susah dicerna karena kompleks), aransemen Morricone menurutku sangat easy-listening. Cinema Paradiso karya Giuseppe Tornatore buatku “very recommended”, paska nonton ini dan dengerin salah satu scoring soundtracknya, yang keinget kentel adalah momen ketika Salvatore menonton hasil potongan pita film (yang muatannya dilarang pater gereja semasa dia masih kecil) yang dirangkai jadi satu kesatuan. Dan scene itu sukses bikin aku mengharu biru.

OST Nick and Norah’s Infinite Playlist
Mungkin banyak orang nyebut ini film ABG kacangan, but who cares? Pengisi soundtracknya jelas bukan musisi kacangan. Nomer yang saya suka antara lain Baby you’re my light dari Richard Hawley (Yes, you will love this one), dan Our Swords Band of Horses.

OST Juno
Selain berhasil menggebrak pasar karena ide orisinalnya, film ini juga didukung soundtrack yang ga biasa. Sebagian besar diisi Kimya Dawsons dengan suara santai tarada beban dan gubahan lirik yang sangat natural bahkan tampak acak-acakan. Plus di sini bisa denger kolaborasi Ellen Page dan Michael Cerra yang aslinya juga bisa main musik–jadi bukan cuma akting doang.
Cek! Tree Hugger, Anyone Else but You

OST 500 days of Summer
Nah, ini juga koleksi yang pas di situasi apapun apalagi ada band fav saya The Smith. Menurutku sangat pas sama filmnya yang bertema berat namun dikemas secara ringan. Berat? ya jelas, kalau ngomongin cinta mah hehe…
cek! Sweet Disposition -The Temper Trap, She’s Got you High -Mumm-Ra, dan dua nomer dari The Smith There’s a Light that never goes out sama Please, Please, Let me.

OST Into the Wild
” Happiness only exists when it’s shared” begitu pesan terakhir Chistopher McCandless aka Alexander Supertramp. Di film ini, Eddie Vedder (hayo dia vokalis apa?) berhasil menyumbang ruh pada klimaks film ini dengan aransemen gitar-ukulele ala folk sound.  “Guaranteed” bahkan berhasil keluar menjadi “Best Original Song” di Golden Globe Award. “The songs could now become another tool in the storytelling” | you’re damn right, Vedder.

OST Sucker Punch
Aduh, suaranya Emily Browning. Cek Sweet Dreams 😉

OST WIcker Park
Meski filmnya ga terlalu happening,tapi soundtracknya menurutku diisi sama lagu-lagu yang asik didengerin. Sebut aja nomer-nomer dari Mates of State, Stereophonic, Deathcab for Cutie, Snow Patrol, and suun.

OST Tiga Hari untuk Selamanya
Ini salah satu soundtrack film Indonesia yang saya suka, dan paling sering saya dengerin. Diisi sama Float dengan komposisi beragam bahkan beberapa lagu seakan membawa kita ke Amerika Selatan. Paling suka Surrender, Pulang, dan 3 Hari Selamanya (aslinya lagu ini udah ada di album 2nd Sky FM Visit–sebelum film ini, tapi liriknya diganti sesuai alur cerita filmnya, judul aslinya Biasa)
*dengerin di sini

Hura-hura Sesaat, Lupakan Sesak

Kawan…
inilah kebahagian yang kucari
ketika tawa itu pecah
ketika perbuatan yang konyol bisa membuatmu tertawa bukan merengut
dan hal sepele bisa melebarkan senyummu

kawan..
bisakah kita tetap seperti ini
tanpa harus paham latarbelakangmu
atau harus selalu tau masalah apa yang kamu alami
yang hanya akan membuatmu merasa tak sama

cukup dengan waktu itu
waktu untuk tertawa puas
yang bisa meringankan bebanmu
dan memberi energi positif untuk pikiranmu yang sinis
atau menyiram hidupmu yang kering

Everybody knows, its hurt to grow up
and everybody does, so weird to be back here
the years go on and we’re still fighting