A Note to Myself

I want to live my life
To enjoy every bit of my breath
To see the world and how people live in it
I want to be wise, to be emotionally stable, to not be afraid of life or even death or people or things.
I want to be connected but not too attached. I don’t want to be care too much of what people think or say, but in the same time I listen.
I want to listen more, act more
…less  talk but speak louder!

Jogja-26 November 2015

Advertisements

[Poem] O Captain! My Captain!

By Walt Whitman

O CAPTAIN! my Captain! our fearful trip is done;
The ship has weather’d every rack, the prize we sought is won;
The port is near, the bells I hear, the people all exulting,
While follow eyes the steady keel, the vessel grim and daring:
But O heart! heart! heart!
O the bleeding drops of
Where on the deck my Captain lies,
Fallen cold and dead.

O Captain! my Captain! rise up and hear the bells;
Rise up—for you the flag is flung—for you the bugle trills;
For you bouquets and ribbon’d wreaths—for you the shores a-crowding;
For you they call, the swaying mass, their eager faces turning;
Here Captain! dear father!
This arm beneath your
It is some dream that on the deck,
You’ve fallen cold and dead.

My Captain does not answer, his lips are pale and still;
My father does not feel my arm, he has no pulse nor will;
The ship is anchor’d safe and sound, its voyage closed and done;
From fearful trip, the victor ship, comes in with object won;
Exult, O shores, and ring, O bells!
But I, with mournful tread,
Walk the deck my Captain lies,
Fallen cold and dead.

***

Taken from his Poem Colllection Leaves of Grass

Sedikit Catatan dari Jurnal Erwin Schmutz

Masyarakat Flores pasti sudah tidak asing dengan sosok yang satu ini. Erwin Schmutz, rohaniwan kebangsaan Jerman ini pernah bermukim di kedalaman pegunungan Mbeliling selama lebih dari 15 tahun (dari tahun 1968-1983). Yang menarik, Erwin Schmutz tidak hanya dikenal sebagai Pater, namun juga berperan besar menyingkap keanekaragaman hayati yang tersembunyi di kedalaman hutan-hutan hijau yang lebat dan jarang terjamah khususnya di Pegunungan Mbeliling dan kawasan Sano Nggoang. Naturalis ini banyak menemukan temuan baru diantaranya burung kehicap flores (Monarcha sacerdotum) dan penemuan kembali serindit flores.

Menemukan catatan perjalanan Erwin Schmutz ketika bermukim dan melakukan penelitian di kawasan Mbeliling dan Sano Nggoang, rasa-rasanya sangat sayang jika dibiarkan mengendap begitu saja. Banyak cerita yang menarik, apalagi terkait kepercayaan masyarakat setempat tentang makhluk-makhluk malam dari hutan. Meskipun, penduduk di kawasan tersebut sudah menganut agama Katolik dan Islam, tetapi masih ada juga yang mempercayai animisme.

Di masa lalu, penduduk setempat tidak boleh sembarangan menebang pohon di hutan. Mereka harus meminta izin pada pemiliknya yakni hantu yang di tempat ini dikenal sebagai poti. Merusak hutan artinya melukai buaya muara dan jika poti marah, penduduk sudah tau apa akibatnya.

Dalam catatan perjalanan Erwin Schmutz yang ada di buku “Searching for a Future” (ditulis oleh Colin Trainor, Widodo Prayitno, Dwi Lesmana, dan Anselmus Gatur), ada kisah–yang menurutku–sangat menarik. Jadi, ada kepercayaan masyarakat setempat tentang ular aneh yang hidup di malam hari. Begini ceritanya :

Jika bepergian di kegelapan bulan November, akan terdengar sayup-sayup suara ‘Ngogogogogo, ngogogogo….’ entah darimana asalnya. Masyarakat setempat menyebut “Kaka Nggokok/Manungge” alias si ular aneh. Mereka menggambarkannya sebagai sesuatu yang pendek, kerdil, tapi punya sayap dan jengger seperti ayam jantan. Makhluk itu dapat membuat suara seperti rusa. Tidak ada warga yang boleh mendekat, atau jika tidak akan mati, jadi ketika mendengar suara-suara itu warga lebih baik segera pergi.

Saat itu Erwin Schmutz berjalan di dalam hutan tepatnya di atas danau Sano Nggoang. Ia berjalan berdua bersama asistennya yang sangat pemberani, Natus Hana. Ketika berjalan, mereka mendengar suara ‘ckkk! ckkk!’ Apa itu? Penduduk setempat mengatakan itu siput tanah yang membanting pintu mereka. Hmm….apakah benar demikian? Tidak. Schmutz menemukan ternyata itu adalah seekor katak pohon berwarna hijau dan tidak berbahaya.

Malam semakin larut, mereka melanjutkan perjalanan ke dalam hutan. Saat itulah, mulai terdengar suara ‘Gogogogogogo! Gogogogogogo!’ Mereka mencoba menelusuri asal suara. Natus memandu melalui semak belukar dan anak sungai. Di sana terlihat jejeran pohon yang tampak seperti pulau. Schmutz meniru suara itu ‘Ngogogogogo….’ dan seketika terdengar sesuatu yang bergerak di antara dedaunan. Agresif.

Rasa takut mulai menghinggapi Natus karena ia tahu itu adalah ular aneh. Tapi Erwin tetap bersikeras mengamatinya. Cahaya senternya tidak mampu menangkap bayangan apapun. Schmutz kemudian menulis dalam jurnalnya “Bukan seekor burung. Sebangsa reptilia, mirip dengan tokek tetapi lebih bauh. Lengkingan agresif, lama kelamaan melemah seperti ‘Keh!Keh!Keh’ Ya seperti seekor tokek, tetapi buas dengan duri keras pada punggungnya, mungkin seperti jengger ayam jantan”

Di kemudian hari saat Erwin Schmutz masih tinggal di kawasan Mbeliling dan Sano Nggoang, akhirnya rasa penasarannya terbayar. Schmutz melihat sendiri makhluk yang dikenal masyarakat setempat sebagai ular aneh. Jeritan aneh ini ternyata berasal dari mulut seekor burung kecil. Jinak dan berbulu indah yaitu Tikusan ceruling (Rallina fasciata). Meskipun begitu, penduduk tetap tidak begitu percaya. Menurut mereka, burung itu mungkin hanya penjaganya alias Acu-Na.

Kalau dipikir-pikir, kepercayaan ini ada baiknya juga, warga jadi ga berani ngerusak hutan apalagi mengganggu binatang-binatang yang ada di dalamnya. Bagaimana mau mengganggu kalau untuk mendekatpun tidak berani. Ya kan? 🙂

Pengen tau lebih banyak soal kawasan Mbeliling dan danau Sano Nggoang? coba klik http://www.burung.org/index.php?option=com_content&view=article&id=93

[Review Buku] Punya Toko Online? Siapa Takut!

k

Judul                      : Sukses Membangun Toko Online
Penulis                   : Carolina Ratri
Penerbit                 : Stiletto Book
Tahun terbit           : 2014
Jumlah Halaman    : 208

Di era digital seperti ini, siapa sih yang tidak mengenal internet? Mei lalu, mantan Menkominfo mengatakan jumlah pengguna internet di Indonesia menempati peringkat ke-8 terbesar di dunia. Netizen pasti sepakat internet memberikan kemudahan. Kehadiran internet mampu meleburkan batas-batas geografis. Yang jauh menjadi dekat, yang rumit menjadi ringkas tak terkecuali ketika berbelanja. Ingin membeli sesuatu tapi terkendala waktu? cukup ketikkan alamat website atau kata kunci di mesin pencari, dalam hitungan detik daftar produk yang sesuai dengan keinginan/kebutuhan langsung tersaji di depan mata, menunggu untuk diproses. Toko-toko onlinepun mulai menjamur, menjadi pilihan bagi masyarakat urban dan tak kalah bersaing dengan toko-toko offline. Inilah yang kemudian membuat orang mulai memperhitungkan bisnis secara online. Namun, untuk orang awam—apalagi sebagian besar perempuan—mengutak-atik platform di internet untuk kepentingan jual beli tentu tidak semudah mengucapkannya. Untunglah, buku “Sukses Membangun Toko Online” karya Carolina Ratri ini hadir. Buku ini membahas segala sesuatu yang perlu diketahui bagi siapapun yang ingin mengembangkan bisnis secara online. Buku ini bukan hanya berguna bagi yang sudah memiliki ide membuat toko online, tapi juga menggerakkan mereka yang sebelumnya bahkan tidak kepikiran untuk berbisnis online.

Ditulis dengan bahasa yang santai nan lugas, buku yang terdiri dari delapan bab ini rasa-rasanya laik dijadikan pegangan bagi siapapun yang ingin merintis toko online. Dimulai dari pengenalan toko online, hal-hal yang perlu dipersiapkan ketika membangun toko online, branding, membuat website dengan platform blogspot, hingga promosi, semua tersaji secara sistematis dalam buku ini. Membangun toko online rupanya tidak berhenti pada pembuatan website dan display produk, tapi juga promosi secara berkala. Pelanggan tidak mungkin datang, kalau tidak dijemput. Nah, di buku ini ada banyak tips yang bisa dipraktikan agar toko online kita lebih kredibel, terpercaya, dan harapannya dikunjungi banyak pelanggan.

Continue reading

[Review Novel] The 100-Year-Old Man : Bertahan Hidup ala Allan Karlsson

Fotor0717121325

Judul Asli      : The Hundred-Year-Old Man   Who Climbed Out of the Window and Disappeared
Pengarang   : Jonas Jonasson
Penerjemah  : Marcalais Fransisca
Penyunting   : Ade Kumalasari
Penerbit       : Bentang Pustaka
Terbit            : Mei 2014

 Sementara kebanyakan novel berkisah tentang tokoh utama berusia muda, Jonas Jonasson justru mengangkat lansia sebagai tokoh utama di novel ini. Percaya atau tidak, justru itulah yang membuat novel ini menarik.

“The 100-year-old Man Who Climbed Out of Window And Disappeared” berkisah tentang Allan Emmanuel Karlsson yang tepat berusia 100 tahun pada Senin 2 Mei 2005. Sementara Direktur Rumah Lansia tempatnya tinggal ingin merayakan secara besar-besaran, Karlsson justru ingin minggat. Hanya dalam satu jam Karlsson, yang seharusnya sudah meniup lilin dan berfoto dengan sang walikota, sudah berada di halte Stasiun Byringe lengkap dengan koper beroda berisi jutaan krona yang tak sengaja ‘dicuri’ dari anggota geng kriminal “Never Again”. Tak diragukan lagi, Karlsson dikejar bukan hanya oleh komplotan “Never Again”, Direktur Rumah Lansia, dan Pak Walikota, namun juga Inspektur Polisi, Jaksa, dan tentu saja para wartawan ‘kepo’ yang menganggap peristiwa ini bisa menjadi hot news.

Continue reading

Boutique Hotels in Yogyakarta

Nowadays boutique hotels are thriving in most of big cities across the world including Yogyakarta, the Javanese cultural heart of Indonesia. This type of hotel offers the ultimate services for your comfort. Most of them were built in an exotic architecture, decorated with various traditional ornaments and furniture, but also equipped with modern devices, such as TV, air-con, free-wifi, etc. They would gladly arrange a tour package so you don’t need to bother at all.
I highly recommend boutique hotel for your alternative accommodation, especially when you’re only in a short-time visit. Although you can’t enjoy every corner of the city, at least you can sense the relaxing and tranquil atmosphere of Yogyakarta as you open your eyes. They have special offers if you book it online via their websites or another travel sites (mcgallery.com, booking.com, agoda.web.id).
Continue reading

Manusia Kawanan!

Rasanya tidak salah menuduh lembaga pendidikan sebagai salah satu faktor yang berperan penting dalam pembentukan kepatuhan. Banyak orang berlomba-lomba memberi pendidikan yang baik untuk anak-anaknya–yang sebenernya tidak lebih dari ketakutan jika anaknya kelak tidak dapat melebur secara harmonis dalam masyarakat. Kurasa, pasti ga banyak yang menyangkal kalau salah satu kriteria karakter lembaga pendidikan yang ‘baik’ itu adalah disiplin.

Awalnya, aku termakan oleh omongan keluargaku dari generasi ke generasi yang selalu berpikir kedisiplinan berbanding lurus dengan kualitas. Disiplin membuat hidup lebih teratur. Karenanya, dari TK hingga SMA aku masuk di sekolah Katholik yang dipercaya menanamkan kedisiplinan lebih baik dibanding sekolah lain. Dan ya, kupikir benar. Aku jadi bangun pagi, datang 15 menit sebelum bel berbunyi, rajin mengerjakan pekerjaan rumah, belajar di rumahpun (yang notabene bukan sekolah) punya jadwal sendiri yang tidak bisa diganggu gugat, terlebih lagi aku merasa bersalah jika melanggar aturan. Semuanya–kupercaya–begitu alamiah. Aku melakukannya secara sadar dan sepenuh hati. Indoktrinasi kepatuhan ini bahkan sudah masuk alam bawah sadarku sehingga tanpa sadar aku menerapkan nilai-nilai yang sama ketika aku lepas dari kungkungan sekolah. Ya, aku bisa melebur dengan baik di masyarakat–mengikuti nilai-nilainya, bahkan menjaganya, tapi celakanya perlahan aku lupa dimana ‘id’-ku berada.

Continue reading