#ReviewBuku “Seberapa Capek Jadi Orang Tua dan Cerita Lainnya”

WhatsApp Image 2017-12-30 at 22.24.59

“Seberapa Capek Jadi Orang Tua dan Cerita Lainnya”
Penulis        : Dian Nofitasari, Vira Luthfia Annisa, Nailal Fahmi, Wrini Harlindi,
Jessica Valentina, dkk
Penyunting : Kartika Wijayanti & Willy Satya Putranta
Penerbit        : Lingkarantarnusa – Yogyakarta (Cetakan Pertama Juni 2017)
Jml.halaman: x +214 halaman

“The mother’s job is done by the best amateur in the world” begitulah satu kutipan yang diucapkan salah satu tokoh dalam serial dorama Jepang ketika temannya—yang adalah seorang ibu satu anak yang saat itu terancam perceraian—merasa tidak cukup percaya diri ketika berhadapan dengan para profesional. Kutipan ini teringat kembali ketika membaca kumpulan cerita para orang tua tangguh dalam buku “Seberapa Capek Jadi Orang tua dan Cerita Lainnya” terbitan Lingkarantarnusa. Berbeda dengan jenis pekerjaan lainnya, tidak ada pelatihan atau sekolah khusus untuk para orang tua yang kelak bisa mencetak mereka menjadi (orang tua) profesional. Semua adalah amatir ketika pertama kali dianugerahi gelar ayah dan ibu, semua belajar dengan praktik langsung—tidak ada percobaan apalagi coba-coba. Maka, pasti akan selalu ada kisah menarik dan unik dari tiap orangtua ketika berhadapan dengan anak-anaknya.

Beruntung 16 penulis bersedia berbagi pengalamannya melalui buku ini. Beberapa membuat saya trenyuh dan ikut terharu, yang lain sukses memecah tawa hingga merinding seakan berada di posisi yang sama seperti si penulis. Pengalaman yang mirip mengingatkan saya bagaimana polah anak semata wayang saya yang kadang begitu pengertian, kadang lucu, ‘konyol’ (setidaknya bagi saya :p) dan sangat menghibur tapi tak jarang juga mengesalkan. Pengalaman unik lainnya dari penulis membuat saya kagum dan semakin yakin bagaimana sosok-sosok orang tua—dengan segala kelebihan dan kekurangannya—selalu berjuang menjadi orang tua yang mampu memahami anak-anaknya. Ya, setiap orang tua pasti ingin menjadi support system bagi anak-anaknya bukan?

“Seberapa Capek Jadi Orang Tua dan Cerita Lainnya” berisi 25 kisah para orang tua. Meski ditulis dengan gaya penulisan yang berbeda, namun semua kisah diceritakan dengan lugas dan inspiratif. Mengapa saya katakan inspiratif? Saya membayangkan para penulis begitu khusyuk menjelajahi ingatannya ketika menulis cerita-cerita ini. Memilih dan menulis satu atau beberapa kisah dari sekian banyak pengalaman yang dialami bersama anak-anak mereka tentu bukan perkara mudah. Saya yakin semua layak dikenang.

Dalam kisah berjudul “Bincang-bincang Bocah”, penulis berhasil mereka ulang percakapan dan pertanyaan ‘nyeleneh’ anak-anaknya yang sukses membuat saya juga ikut tertawa dan berpikir, “hmm..bener juga ya!” (sambil mengelus dagu). Kisah “Mathpobia” cukup menyentil saya yang terkadang seringkali ga sabaran dan akhirnya hanya bikin anak terluka (Duh ga lagi-lagi deh!). Ada lagi sharing tentang “Bijak Mengatur Uang Saku” dan “Cermin Ajaib” yang cukup menginspirasi buat saya dan tak kalah menarik lagi kisah-kisah tentang memiliki anak indigo. Kisah berjudul  “Menurutku, Bubu Luar Biasa” membuat saya terharu sekaligus membuat saya teringat saat saya juga mengalami situasi sulit, penghiburan terbesar justru keluar dari bibir si kecil. Dari sini ternyata sebenarnya bukan hanya orang tua yang berjuang untuk bisa memahami anak-anaknya, tapi anak-anak juga berjuang memahami orang tuanya.

Membaca kisah-kisah ini seperti sedang ngobrol dengan sahabat-sahabat saya, para orang tua seakan menandaskan kalau kita—para orang tua—tidak pernah sendiri, orang tua lain juga mengalami hal yang sama. Tidak ada orang tua profesional dan pekerjaan orang tua yang ‘sulit’ itu toh pelan-pelan bisa dilakukan dan terlewati dengan segala kekurangan dan kelebihannya.  Pengalaman dan proses yang unik semakin memperkaya ‘perjuangan’ kita—para amatiran. Apa tah yang lebih menyenangkan dan melegakan selain bisa berbagi dan mendengar kawan bercerita?

Advertisements

#ReviewBuku “The Devil and Miss Prym”

Processed with VSCOcam with c1 preset

Dalam sehari, berapa kali pergulatan ‘baik’ dan ‘buruk’ kamu alami?  Lalu, mana yang lebih sering kamu putuskan, yang baik atau yang buruk? Hmmm…. apakah semakin banyak keputusan baik berarti kita orang baik sementara semakin banyak keputusan ‘buruk’ yang kamu ambil berarti kamu orang jahat? Apakah sesederhana itu?

Kemarin aku baru selesai baca novel Paulo Coelho lainnya berjudul “The Devil and Miss Prym” alias Iblis dan Miss Prym. Ini adalah salah satu novel dalam trilogi And On The Seventh Day, dua lainnya berjudul “Di tepi Sungai Piedra Aku Menangis” dan “Veronica memutuskan Mati”. Aku belum baca keduanya, tapi cuplikan singkat di buku ini, katanya ketiga novel ini menceritakan sesuatu yang bisa terjadi hanya dalam tujuh hari. Kematian. Kekuasaan. Cinta.  Pepatah bilang sih ‘ga ada yang ga mungkin’. Siapa yang bisa mengira takdir akan mengarah kemana, tapi pada akhirnya manusia hanya bisa ‘mencintai’ takdir.

Diawali pertemuan ‘orang asing’ dan Chantal Prym, pelayan bar dan satu-satunya gadis muda yang masih tinggal di desa Viscos, mulailah momen menakutkan bagi warga Viscos. Meski pembangunan terjadi dimana-mana, warga desa Viscos bersikeras mempertahankan desa mereka hingga ga rela menjual sepetak tanahpun untuk dibangun menjadi resort mewah. Desa yang dihuni 281 orang ini hanya ramai pada musim-musim berburu. Sisanya, rutinitas sehari-hari yang monoton sajalah yang menghiasi pemandangan. Jika Chantal adalah orang termuda, Berta adalah orang tertua di desa itu. Nenek kesepian ini selalu duduk di depan rumahnya dari pagi hingga siang, seakan ga ada hal lain yang bisa dikerjakannya. Dia disebut-sebut penyihir oleh warga setempat karena kata-katanya yang sering dirasa ‘bijaksana’ dan kebiasaannya ngomong sendiri. Kalau ditanya apa yang sedang ia lakukan, Berta langsung berseloroh ‘waspada menanti kedatangan Iblis’. Tentu saja jawabannya ini hanya membuat warga makin bergidik.

Pengalaman hidup si orang asing memaksanya membuat rencana gila. Alasannya hanya satu, dia ingin tau sifat manusia yang hakiki. Apakah benar kata legenda kalau baik selalu jadi pemenang? Apakah benar, setiap manusia pasti baik? Rencana inilah yang kemudian menyeret Chantal dan tentu saja Berta. Sebagai orang biasa, Chantal mau tidak mau terjebak dalam kemonotonan Viscos yang damai dan aman sejahtera, tapi meski begitu Chantal selalu merasa warga desa Viscos adalah pengecut sejati, penakut. Dengan pikiran itupun, dia sudah merasa dirinya berbeda. Rencana si ‘orang asing’ bukan hanya mengusik batin Chantal. Sayapun terusik.

…dan sekali lagi, novel Coelho membuat kita berpikir. Bukan sekedar melahap isi buku dan menikmati alur cerita, “The Devil and Miss Prym” membuat kita menimbang lagi apa yang sudah kita lakukan selama ini. Pada akhirnya, seperti yang ditutur oleh Berta, “Satu hal yang bisa kukatakan dengan pasti : hidup bisa terasa amat panjang atau sangat singkat, tergantung bagaimana kau menjalaninya”. Benar kan? 🙂

.

[Review Buku] Punya Toko Online? Siapa Takut!

k

Judul                      : Sukses Membangun Toko Online
Penulis                   : Carolina Ratri
Penerbit                 : Stiletto Book
Tahun terbit           : 2014
Jumlah Halaman    : 208

Di era digital seperti ini, siapa sih yang tidak mengenal internet? Mei lalu, mantan Menkominfo mengatakan jumlah pengguna internet di Indonesia menempati peringkat ke-8 terbesar di dunia. Netizen pasti sepakat internet memberikan kemudahan. Kehadiran internet mampu meleburkan batas-batas geografis. Yang jauh menjadi dekat, yang rumit menjadi ringkas tak terkecuali ketika berbelanja. Ingin membeli sesuatu tapi terkendala waktu? cukup ketikkan alamat website atau kata kunci di mesin pencari, dalam hitungan detik daftar produk yang sesuai dengan keinginan/kebutuhan langsung tersaji di depan mata, menunggu untuk diproses. Toko-toko onlinepun mulai menjamur, menjadi pilihan bagi masyarakat urban dan tak kalah bersaing dengan toko-toko offline. Inilah yang kemudian membuat orang mulai memperhitungkan bisnis secara online. Namun, untuk orang awam—apalagi sebagian besar perempuan—mengutak-atik platform di internet untuk kepentingan jual beli tentu tidak semudah mengucapkannya. Untunglah, buku “Sukses Membangun Toko Online” karya Carolina Ratri ini hadir. Buku ini membahas segala sesuatu yang perlu diketahui bagi siapapun yang ingin mengembangkan bisnis secara online. Buku ini bukan hanya berguna bagi yang sudah memiliki ide membuat toko online, tapi juga menggerakkan mereka yang sebelumnya bahkan tidak kepikiran untuk berbisnis online.

Ditulis dengan bahasa yang santai nan lugas, buku yang terdiri dari delapan bab ini rasa-rasanya laik dijadikan pegangan bagi siapapun yang ingin merintis toko online. Dimulai dari pengenalan toko online, hal-hal yang perlu dipersiapkan ketika membangun toko online, branding, membuat website dengan platform blogspot, hingga promosi, semua tersaji secara sistematis dalam buku ini. Membangun toko online rupanya tidak berhenti pada pembuatan website dan display produk, tapi juga promosi secara berkala. Pelanggan tidak mungkin datang, kalau tidak dijemput. Nah, di buku ini ada banyak tips yang bisa dipraktikan agar toko online kita lebih kredibel, terpercaya, dan harapannya dikunjungi banyak pelanggan.

Continue reading